Dengan Bicaranya yang Tajam, Rocky Gerung Menjadi Perbincangan Publik

119

JAMPANGMEDIA.COM,- Pengamat Politik, Rocky Gerung yang merupakan dosen filsafat hari-hari ini begitu tenar, ramai diperbincangkan di dunia nyata maupun di dunia maya Negeri ini. Bukan karena Rocky Gerung seorang pejabat yang punya kuasa, Jabatan dan Kekayaan, Bukan juga karena seorang yang penuh dengan masalah.

Rocky Gerung adalah seorang intelektual, ilmuwan filsafat politik yang memiliki naluri intelektual mumpuni. Kata- katanya tajam, kritis, bernalar, logika berfikir terstruktur bahkan berbicara dalam narasinya yang baik dan mampu hipnotis pendengar, mambuat semua pendengar decak kagum.

Kehebatan berwicara tidak selalu mendapat pujian, berbagai caci, maki, di-bully, bahkan dilaporkan berkali-kali ke aparat penegak hukum. Ibarat menentang arus, melawan badai.

Mencermati berbagai polemik terkait penyataan Rocky Gerung di ILC TVOne tanggal 11 April 2018 cukup menarik untuk kita semua. Ternyata berpikir, bernalar dan berlogika bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Sangat rumit serumit hiruk pikuknya dinamika perpolitikan nasional.

Beragam reaksi negatif yang muncul hari ini menunjukkan potret sumber daya manusia bangsa ini, bahwa kita telah lama hidup dalam dunia nihil literasi.

Maka tidak mengherankan jika ada sekelompok orang bereaksi keras atau menanggapi negatif atas pernyataan Rocky Gerung. Terlepas dari mereka berpolitik di tahun politik atau untuk membungkam seorang kritikus Rocky Gerung, bahwa  pemerintah saat ini mengalami kekeringan bernalar, potret buram!

Demikian pula orang-orang yang bereaksi negatif dan melaporkan Rocky Gerung ke kepolisian bisa dimaklumi, meskipun sedikit emosional dan terburuh-buru seakan-akan membunuh dan membungkam akal, pikiran, perasaan dan ekspresi intelektualisme seorang manusia yang bernama Rocky Gerung.

“Namun jika dilihat perspektif hukum dan HAM ternyata bisa menjadi bumerang bagi mereka yang melaporkan karena Rocky Gerung konsisten tidak menyebut agama mana dan Kitab Suci apa””.

“Oleh karena tidak menyebut objek (focus delicti), maka Rocky Gerung tidak bisa dituntut pasal penodaan agama, Bahkan justru yang melaporkan berpotensi dilaporkan balik oleh Rocky Gerung”.

Rocky Gerung menyampaikan pengertian fiksi ternyata tidak sekedar ucap tetapi memiliki basis ilmiah dan literatur yang lasim digunakan di jurusan sastra dan budaya berbagai perguruan tunggi di Indonesia.

Dalam dunia pengetahuan bahasa dan sastra ada dua orang profesor dengan pendapat yang menjadi basis pendapat Rocky Gerung, pertama Burhan Nurgiyantoro, Guru Besar Sasatra Universitas Negeri Yogyakarta bahwa Fiksi adalah sebuah prosa naratif yang bersifat imajiner. Teori Pengkajian Fiksi, Gajah Mada University Press, 2013.

Kedua, Henry Guntur Tarigan: Fiksi adalah sesuatu yang dibentuk, sesuatu yang dibuat sesuai yang diciptakan, sesuatu yang diimajinasikan.( Hendry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Puisi, Drama dan Fiksi, IKIP Bandung, 1971).

Indonesia bukan negara agama (teokrasi), tetapi juga negara tidak beragama (sekularism). Agama jangan ditarik dalam sentrum utama kekuasaan tetapi juga jangan menjauhkan agama dalam pengelolahan negeri ini.