Legenda Curug Caweni Yang Beredar Luas

120

Curug Caweni yang memiliki ciri mencolok yaitu, sebuah batu setinggi 7 meter yang seperti manusia sedang berdo’a. menurut mitos dari informasi yang didapat batu tersebut adalah Arca Caweni. Arca Caweni adalah seorang puteri yang dulu pernah berkuasa di wilayah Cidolog. Nama tersebutlah sejarah yang beredar luas tentang asal mulanya nama curug Caweni.

Caweni atau cawene adalah bahasa Sunda, yang berarti “randa bengsrat” atau janda yang masih suci karena berpisah dengan suaminya sebelum melakukan hubungan badan. Cerita itulah yang melegenda yang turun temurun.

Dahulu kala, diwilyah Cidolog ada seorang puteri cantik jelita yang bernama Caweni, kecantikan puteri tersebut membuat setiap laki-laki yang melihatnya kagum dan tertarik. namun sayang, pada diri Caweni ada satu hal yang aneh, yaitu didalam tubuhnya ada seekor ular gaib yang sangat mematikan, sehingga setiap laki-laki yang menikah dengannya akan meninggal karena digigit oleh ular tersebut.

dalam cerita itu, Puteri Caweni telah menikah sebanyak 99 kali. orang-orang sudah banyak yang membicarakan perihal keanehan yang ada pada diri Caweni. Dan pada akhirnya Caweni pun meninggalkan desa tempat kelahirannya dengan membawa itik dan anjing peliharannya.

Tanpa tujuan yang pasti, Caweni melakukan perjalanannya dengan menyusuri aliran sebuah sungai. Di perjalanan Caweni merasa kelelahan, dan memilih beristirahat untuk melepas rasa lelahnya. Tempat peristirahatan tersebut kini disebut Leuwi Kasur, karena ditempat tersebut Caweni minggalkan kasurnya.

Irfan Safe’I, warga sekitar mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, leuwi Kasur ini sangat dalam dan pernah ada orang yang memancing di luwi itu. ketika mendapat ikan yang sangat besar, orang tidak mampu mengangkatnya, orang itu malah tenggelam terbawa pancingannya.

Lanjut cerita, setelah berisitirahat cukup lama dan rasa lelahnya telah hilang, Caweni melanjutkan perjalannya. Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh serta menguras tenaga, Caweni memutuskan untuk istirahat kembali. Setelah beristirahat Caweni melanjutkan perjalannya, Kali ini Caweni meninggalkan anjing yang dibawanya, karena anjing tersebut tidak mau ikut melanjutkan perjalanan. Disebutlah tempat peristirahatan itu dengan nama Curug Anjing, dan bentuknya pun seperti seekor anjing yang sedang jongkok.

Tinggalah seekor itik yang masih menemani perjalanan Caweni. Namun itik tersebut juga ditinggalkan Caweni di tempat peristirahatan berikutnya, karena itik itu keasyikan berenang dan tidak mau ikut lagi melanjutkan perjalanan menemani Caweni. Sampai sekarang tempat itupun bernama Leuwi Meri (Itik).

Saat melanjutkan kembali perjalanan, Caweni tiba disebuah air terjun yang cukup tinggi menghalangi perjalanannya. Caweni pun berkali-kali berusaha memanjat tebing air terjun tersebut. namun karena tebing itu cukup tinggi dan licin, Caweni gagal melanjutkan perjalanan karena tidak mampu memanjat tebing air terjun itu.

Disaat rasa putus menyelimuti Caweni, datanglah seorang pemuda bangsawan bernama Pangeran Boros Kaso menghampiri Caweni. Pertemuan itu membuat mereka tertarik satu sama lain, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah. Putri Caweni memberi syarat kepada Pangeran Boros Kaso, untuk sabar menunggunya sampai berhasil mendaki curug. Dan Pangeran menyanggupinya menunggu sampai Caweni berhasil mendaki.

Usaha Caweni mendaki curug selalu gagal, sehingga putri memutuskan menunggu sampai datang bajir besar, sehingga dirinya bisa dengan mudah mencapai bibir curug. Namun sayang banjir yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba, padahal Pangeran Boros Kaso sudah tak sabar menunggu kedatangan Puteri Caweni.

Telanjur berjanji, Caweni tidak putus asa, tetap sabar menunggu dan yakin banjir besar akan datang. Sedikitpun Caweni tidak bergerak dari tempatnya, sehingga tubuhnya yang mulus perlahan-lahan tertutup oleh debu yang menempel pada tubuhnya. Lama kelamaan, debu tersebut berubah menjadi batu dan mengubah tubuh Putri Caweni menjadi Arca atau patung.

Itulah cerita sebuah batu setinggi 7 meter mirip manusia sedang berdoa bersandar di tebing Curug Caweni. Menurut mitos yang tersebar dimasyarakat luas, dipenghujung zaman akan terjadi banjir besar menyatukan sungai cikaso dengan cibuni yang bisa mempersatukan Pangeran Boros Kaso dengan Puteri Caweni.

Terlepas dari kebenarannya, cerita inilah yang melegenda dan tersebar di masyarakat secara turun-temurun.