Desa Terbaik Di Kabupaten Sukabumi Dengan Brand Kampung Markisa

150
Endim Opandi yang bergerak dibidang pemberdayaan Masyarakat, bersama rekannya meninjau pohon markisa yang akan di panen ||foto Samsun Ramlie

JAMPANGMEDIA.COM,- Kampung Markisa merupakan program membangun komunitas dakwah di Kecamatan Ciracap, dengan pola pemberdayaan masyarakat menanam 2 pohon markisa disetiap rumah “One family one markisa”. Kecamatan Markisa sekarang menjadi sebuah julukan untuk Kecamatan Ciracap.

Penggagas Program Kampung Markisa, Henda Pribadi menyampaikan, Terima Kasih kepada seluruh aparatur pemerintah dan warga masyarakat kecamatan ciracap, yang telah menaikan status, dari Kampung Markisa menjadi Kecamatan markisa. dimulai dari Kampung Tajur Desa Ciracap, sekarang sudah 8 bulan program ini berjalan, sudah 4 ribu pohon markisa tertanam di Kecamatan Ciracap. Selasa (13/3/2018).

Penggagas Kampung Markisa, Henda Pribadi saat meninjau kebun Markisa di tanah seluas 2 hektare bersama pengurus kebunnya

Berawal dari Lomba pegawai berinovasi yang diadakan Kementerian Agama. orang yang akrab dipanggil Pahe ini, dengan program kampung markisa yang digagasnya, Henda Pribadi meraih juara 1 sebagai Penyuluh agama teladan tingkat provinsi.

Kemudian, Pahe menambahkan, saya disuruh untuk melanjutkan lomba ke tingkat nasional. namun enggan, karena program markisa ini adalah program dakwah dengan pola pembinaan ruhiyah. Mungkin dakwahnya akan hilang jika tujuannya untuk mendapat juara pada perlombaanya.

Kedepannya, akan membuat taman wisata markisa, dan diharapkan masyarakat mampu memproduksi markisa mejadi sebuah produk yang bermerek sirup markisa gopark ciletuh. Tutur Pahe.

menanam pohon markisa bersama Penggerak PKK Kecamatan Ciracap

Endim Opandi, salah satu tokoh di Kecamatan Ciracap mengatakan, setiap rumah ada 2 – 20 pohon markisa. Itu menunjukan bahwa markisa sudah menjadi ciri Kecamatan Ciracap. Dan berkat markisa juga, Desa Ciracap sekarang sebagai Desa terbaik ditingkat kabupaten dengan brand markisanya.

Rencana awal targetnya minimal bisa membayar pajak tanah yg dipakai rumah. Tapi panen Januari kemarin, belum sampai diproduksi untuk dipasarkan, karena masyarakat langsung mengkonsumsinya. Dan Karena jumlah yang ditanam disetiap rumah hanya beberapa pohon saja.

Jika prioritasnya untuk dipasarkan, lanjut Endim, mungkin sudah melebihi target. Namun, karena saat ini masyarakat memilih mengkonsumsinya dan membagi-bagikan terlebih dahulu, mungkin beberapa bulan kedepan baru bisa memproduksi untuk dipasarkan. padahal penjualan buah markisa bisa nyampe Rp 1000 per butir.

Masyarakat sudah bisa dengan dua kali melakukan latihan memproduksi sirup markisa yang berbentuk cair dan kental. Tinggal latihan pengemasannya, karena alatnya belum ada. pihak Dinsos baru baru memberikan bantuan berupa alat praktek proses pembuatan saja.

Masyarakat yang terlibat dalam dalam program markisa ini tidak hanya orang tua saja. Bahkan ada sekelompok anak muda yang tergabung dalam Karang Taruna kadus tajur yang proaktif dalam program markisa ini. Pungkas Endim.